-->

Dalang Masuk Sekolah, Apa Bisa?

JAKARTA, KOMPAS.com - Dio M. Albasit cuma bisa menggeleng ketika ditanya soal cerita yang tengah dimainkan seorang peserta Festival Dalang Bocah 2009 di atas panggung Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (19/12/2009). Dio jujur mengatakan hal itu. Selain baru pertama kali melihat wayang dimainkan secara langsung di depan matanya, si dalang pun menggunakan bahasa Jawa, sehingga siswa kelas VI SD 01 Ceger, Jakarta Timur, benar-benar semakin tidak mengerti. "Enggak ngerti, tapi saya suka, soalnya wayang itu lucu," kata Dio. Sebetulnya, anak itu mengaku, mau juga belajar memainkan wayang atau menjadi dalang. Hanya saja, orang tuanya sendiri nyaris belum pernah mengenalkan padanya ihwal wayang atau dalang. Wayang dikenalnya hanya ketika ke museum atau ke TMII. "Ke sini ikut guru, karena sekolah kan memang diundang untuk nonton ini," ujarnya. Sulit Setidaknya, melestarikan wayang dan pedalangan yang paling mudah memang harus diawali lewat lingkup keluarga pedalang. Pasalnya, bukan tidak ada, tetapi dukungan untuk melestarikan wayang dan pedalangan di kalangan generasi muda selama ini masih kurang kuat, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Sanggar-sanggar seni untuk wayang tidak banyak, bahkan rata-rata kembang kempis karena harus menopang hidupnya sendiri. Di sekolah, wayang dan dalang pun belum sepenuhnya bisa dijadikan muatan lokal yang bisa diterapkan pada anak didik. "Saya bangga karena anak saya mau belajar mendalang dan akhirnya memang bisa, tetapi itu bukan karena bendera saya dilanjutkan, lebih dari itu anak saya akhirnya punya prinsip dalam hidupnya, punya kepribadian, dan mau meneruskan tradisi seni budaya leluhurnya," ujar Ki Sigit Toto Carito, ayah kandung dari dalang bocah perempuan bernama Monik Dwi Rahayu, siswa kelas V SD Katolik Yos Sudarso, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sigit mengatakan, sudah saatnya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) memerhatikan dalang dan wayang sebagai muatan lokal yang bisa dijadikan sebagai pengembangan diri siswa di sekolah. Paling tidak, hal itu dilakukan lebih dulu di kitaran Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan D.I Yogyakarta. Dia melanjutkan, dalang-dalang bocah,-- yang rata-rata adalah siswa SD dan SMP, yang tampil di Festival Dalang Bocah 2009 di Gedung Pewayangan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, sejak 16-19 Desember 2009, merupakan calon-calon generasi penerus seni tradisi pedalangan dan wayang. Mereka perlu difasilitasi hobinya untuk bisa menularkan kepada teman-temannya di sekolah. Menanggapi hal itu, Kepala SD Lubang Buaya 01, Jakarta Timur, Encep Sopyan, mengaku sangat sulit menjadikan pedalangan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah di Jakarta. Sekadar untuk melihat pertunjukkan sebagai sebuah pengetahuan, lanjut dia, tentu tidak masalah dan bahkan sangat dianjurkan. "Kita terima kasih diundang ke sini, anak-anak juga senang, cuma terus terang kalau yang mereka lihat di sini tidak mereka mengerti," ujar Encep. Encep mengatakan, dalang dan wayang adalah seni budaya lokal atau daerah di daerah-daerah di Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur atau Yogyakarta. Sementara di Jakarta sendiri masih banyak muatan lokal Betawi yang justeru harus diprioritaskan untuk diterapkan pada siswa. "Dan mestinya, jika memang perlu diadakan sebagai muatan lokal yang dilestarikan lewat sekolah, pengenalan wayang dan dalang tidak bisa langsung diberikan. Harus menggunakan media boneka. Pelan-pelan, baru menggunakan wayang, biar anak-anak itu senang dulu, tertarik dulu, barulah diberi pemahaman," ujarnya. Sejauh ini, kata Encep, muatan-muatan lokal yang diterapkan di sekolahnya adalah tari-tarian tradisional daerah dari berbagai provinsi, bukan hanya Betawi. Namun, khusus siswa yang memang punya hobi mendalang, Encep akan menyalurkannya ke TMII yang memiliki wadah untuk mentransfer ilmu tersebut. Betik ketitik, olo ketoro Menurut pengamat yang juga Ketua Dewan Juri Festival Dalang Bocah 2009, Blacius Subono, dari ISI Surakarta, dirinya mengaku gembira melihat perkembangan dalang di kalangan anak yang luar biasa saat ini. "Mereka sangat potensial dan perlu pembinaan lebih lanjut, baik itu dari kalangan dalang atau bukan dalang. Jangan heran, ada peserta yang berasal dari keluarga Batak yang jauh sekali dari dunia pedalangan ini," ujarnya. Memang, lanjut dia, tidak dimungkiri bahwa "pelestarian" seni dan budaya wayang dan dalang saat ini masih kuat ditularkan oleh keluarga dalang. Sementara di luar itu, angka partisipasi aktif masih kecil dan perlu digenjot lagi lewat dukungan masyarakat dan pemerintah. "Seni tradisi itu ada yang tidak komersil dan butuh dukungan demi kemaslahatan umat. Jawa Timur itu bagus sekali dukungan masyarakatnya terhadap seni tradisi, kami yang di Jawa Tengah terus terang iri dengan masyarakat Jawa Timur yang begitu tinggi mengapresiasi seni tradisi," ujar Blacius. Blacius menambahkan, sudah saatnya perlu kesepahaman antara para dalang, asosiasi dalang dan pemerintah untuk membawa festival dalang bocah ini ke depan dengan lebih baik untuk tujuan pelestarian. "Kalau benar bisa dijadikan muatan lokal di sekolah-sekolah tentu semakin baik dan mempercepat pelestarian dalang dan wayang di kalangan generasi muda," tambahnya. Senada dengan Blacius, Sigit menyatakan keprihatinannya terhadap pemerintah yang dirasakan masih kurang untuk melestarikan seni budaya dalang dan wayang di kalangan generasi muda. "Terus terang saya prihatin, kemampuan siswa sekarang lebih dikejar pada iptek, olimpiade ini dan itu, juga ujian nasional (UN). Semua hanya untuk otak kanan, tetapi otak kirinya dilupakan. Lihat saja, pelajaran-pelajaran budi pekerti semakin dibelakangi," tegas dalang yang juga guru olah raga di SD Katolik Yos Sudarso, Balikpapan, Kaltim, ini. Sigit menambahkan, banyak nilai-nilai moral dan budi pekerti yang bisa ditanamkan pada siswa lewat wayang dan dalang. Salah satunya adalah falsafah betik ketitik olo ketoro di dalam karakter cerita-cerita wayang. "Yaitu, bahwa yang baik dan jahat itu akan terlihat jelas. Nah, sekarang itu kan yang baik itu lebih banyak tidak terlihatnya," ujarnya, terbahak. LTF  Sumber ; kompas.com
BERIKAN KOMENTAR ()