F 6 Periodeisasi Perkembangan Seni Rupa Anak, Orang Tua dan Guru Wajib Tahu! | Ismanadi -->

6 Periodeisasi Perkembangan Seni Rupa Anak, Orang Tua dan Guru Wajib Tahu!

Photo by Markus Spiske on Unsplash
Pagi ini secara kebetulan saya menemukan file-file lama saya berupa hardcopy berupa salinan artikel yang diterbitkan pada majalah Artista No. 1 Vol. 4 Tahun 2002. Meski terbilang cukup jadul, namun isi artikel yang saya temukan sangat penting. Terlebih bagi saya secara pribadi yang sehari-hari membersamai anak-anak di sekolah menengah pertama untuk mata pelajaran seni budaya. Ya, artikel tersebut berjudul asli Perkembangan Seni Rupa anak yang ditulis oleh  Agung Suryahadi. Tertulis jelas di akhri artikel bahwa saat itu penulis merupakan  seorang Widyaiswara PPPG Kesenian Yogyakarta.


Saya teringat, bahwa salinan artikel berupa hardcopy tersebut merupakan salah satu bagian dari referensi yang saya gunakan dimedio 2008 saat menulis skripsi. Dan amat sayang sekali bila artikel begitu sarat dengan ilmu ini jika harus hilang begitu saja. Mengingat, saat saya browsing tentang judul artikel tersebut di internet dengan harapan masih menemukan softcopy dari majalah atau salinan lainnya juga ternyata nihil. Akhirnya terbersit untuk menjadikan artikel tersebut sebagai salah satu postingan di blog ini. Meski tidak secara utuh saya dan lengkap yang saya tampilkan. Hanya terkhusus pada bagian periode perkembangan seni rupa anak. Berikut ini cuplikan dari tulisan Agung Suryahadi terkait dengan tahap perkembangan seni anak.

Tahap Perkembangan Seni Anak
Awal kehidupan anak merupakan masa yang sangat menentukan pola tingkah laku, pikiran, dan belajar pada masa selanjtunya. Pada masa ini kesaradan jati diri mulai tumbuh. Seni dapat memberi dukungan yang berarti. Melalui kegian seni, anak berupaya mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap lingkungan hidupnya. 

Masa pertumbuhan anak menurut para ahli psikologi dan pendidikan dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan karya seni rupa yang mereka buat. Lowenfel mengklasifikasikan perkembangan anak atas beberapa 6 tahapan antara lain:

1. Tahap Coret-Coret (Scribbing) Usia 2-4 Tahun
Dalam tahapan ini ditunjukkan dengan kemampuan anak untuk membuat goresan yang tidak terwujud. Tahapan ini pula juga dibedakan menjadi tiga yakni
  • Coretan Tidak Beraturan (Disordered Scribbing)
Pada tahapan ini goresan yang dibuat anak kelihatan acak berdasarkan Gerakan lengannya sehingga goresan tidak menggambarkan lingkungannya. Goresan biasanya dibuat melingkar. Hall ini sesuai dengan kemampuan anak secara alami mudah menggerakkan lengan dengan gerakann melingkar.
  • Coretan Terkontrol (Controlled Scribbing)
Pada tahapan ini anak mulai menyadari bahwa goresan yang mereka buat memiliki hubungan dengan gerakannya. Anak mulai sedikit mengontrol gerakannya dalam menggores. Mereka mulai dapat membuat garis lurus dan garis lengkung atau gelombang dan dapat dibuat secara berulang. 
  • Penamaan Goresan (Naming of Scribbing)
Pada tahapan ini anak memberikan nama terhadap goresannya walaupun tidak ada bentuk sebagai representasinya. Pada tahapan ini pikiran anak telah berubah dari kinestetik ke imajinatif. Karena telah mampu menghubungkan coretannya dengan dunia di sekitarnya. Perubahan ini muncul pada usia sekitar tiga setangah tahun. Coreatan yang dibuat tidak lagi sekedar goresan hasil Gerakan tangan tetapi sebgai batas tepi benda.
Photo by Jerry Wang on Unsplash
2. Tahap Prabagan (The Preschematic Stage) Usia 4-7 Tahun
Pada tahap ini terjadi perubahan cara menggambar yaitu terjadi kesadaran akan kreasi bentuk dan mulai ada komunikasi dengan gambar. Ciri tahap coret-coret yang berdasarkan Gerakan tangan kini berubah menjadi coreatan yang terkontrol dan memiliki hubungan yang jelas dengan lingkungan karena merepresentasikan  sesuatu yang pernah dilihat anak seperti orang, rumah atau pohon. Biasanya representasi pertama yang dibuat adalah bentuk orang dengan hanya terdiri dari bulatan sebgai kepala, ditambah garis lurus kebawah sebagai bentuk badan dan kaki. Manusia adlaah bentuk yang pertama dibuat karena paling sering dilihat dan dekat dengan anak. Orang yang selalu ada disekitar anak adalah ibu, bapak dan saudaranya. Kepala merupakan pusat perhatian, kaena yang selalu dilihat awalnya adalah bagian kepala dengan mata, bibir, hidung dan rambut.
Photo by Volodymyr Hryshchenko on Unsplash
3. Tahap Bagan (The Schematic Stage) Usia 7-9 Tahun
Setelah puas dengan eksprerimen membuat bentuk. Akhirnya anak mulai dapat membentuk bagan lebih lengkap. Disebut bagan, jika anak membuat bentuk dengan pengulangan tanpa ada keingingan mengubah. Jika nak mengubah bentuk, itu disebabkan ada sesuatu yang sangat penting bagi mereka. 

Pada usia 7 tahun kemampuan anak menggambarkan tubuh manusia tergantung dari pengetahuan mereka tentang tubuh tersebut. Gambar bagan biasanya berbentuk segitiga, segi empat, lingkaran, serta bentuk tak beraturan untuk tubuh manusia. Pada tahap ini dalam diri anak tumbuk adanya pemikiran bahwa ada tempat berpijak, yaitu tanah. Kemudian muncul base line pada gambarnya. Dengan demikian, kesadaran akan ruang mulai muncul.

Ciri lainnya adalah penggambaran sesuatu yang tidak Nampak oleh mata pada saat yang bersamaan. Misalnya, penggambaran sesuatu yang ada di dalam rumah. Ini memberikan pemahaman bahwa anak ingin bercerita tentang kejadian yang berbeda waktunya dalam suatu tempat. Gambar seperti ini biasa disebut gambar X-Ray atau gambar tembus pandang.

4. Tahap Berkelompok (The Gang Age) Usia 9-12 tahun
Salah satu ciri yang menonjol pada periode ini adalah anak menyadari bahwa mereka anggota masyarakat.. anggota dari kumpulan teman-temannya. Pada masa ini anak mulai dapat bekerja sama dengan anak lainnya dan orang dewasa. Dalam kelompoknya mereka dapat bercerita tentang pengalaman, rahasia, dan kesenangan dalam bekerja sama. Kelompok biasanya didasarkan pada jenis kelamin yang sama. Anak perempuan mulai tertarik pada pakaian yang bagus dan anak laki-laki mulai senang membuat mainannya sendiri. Mereka suka pergi dengan kelompoknya. 

Ciri gambar yang dibuat anak usia ini sudah membedakan jenis kelamin secara jelas. Perbedaan pakaian yang digunakan menggambarkan hal itu. Penggambaran dengan melebihkan ukuran semakin berkurang. Sedangkan detail bagian-bagian terentu mendapat perhatian lebih dengan maksud menonjolkan hal yang dianggap penting.

5. Tahap Naturalisme Semu (The Pseudo Naturalistic Stage) 12-14 Tahun
Pada periode ini anak mengalami masa transisi dari masa anak ke masa remaja. Anak perempuan mulai matang sesualitasnya dan anak laki-laki mulai tumbuh rambut pada dagunya. Usia ini sering disebut masa pubertas. Masa anak sering terombang-ambing jiwanya.

Anak mulai kehilangan spontanitas dalam membuat gambar karena mulai menggunakan penalaran. Perubahan dari ketidaksadaran menuju ke kesadaran. Oleh sebab itu anak menjadi lebih kritis dan menyadari dirinya sendiri. Mereka mulai mampu membuat bentuk secara proporsional dan detail dari benda yang Digambar. Seperti lipatan kain, perubahan warn ajika terkena bayangan. Dalam menggambarkan ruang mereka faham perspektif sehingga gambar yang dibuat mendekati kenyataan.
6. Tahap Seni Dewasa ( Adolescent Art) Usia 14-17 Tahun
Pada tahap ini, karya seni merupakan suatu hasil dari upaya kesadaran. Belajar seni pada periode ini merupakan suatu tujuan yaitu untuk menguasai keterampilan. Bagi remaja usia ini seni bukan lagi merupakan bagian dari kehidupannya. Bukan lagi merupakan kebutuhannya. Mereka memandang seni menjadi sesuatu yang dapat dipelajari  untuk tujuan tertentu. Seperti kesenangan atau profesi. Oleh sebab itu, pembinaan remaja lebih dipersiapkan kearah apa yang mereka inginkan melalui pembelajaran seni.

Karena kemampuan pada usia ini sudah sama dengan orang dewasa, pembelajran seni rupa diarahkan  kepada penguasaan keterampilan. Misal, menggambar bentuk, membuat patung, atau benda seni yang memiliki kemungkinan untuk memuaskan kebutuhan dan perkembangan mereka selanjutnya.

Ismanadi
Sumber :
Majalah Artista No. 1 Vol 4 Mei 2002

BERIKAN KOMENTAR ()